Bukber di Naladerma: Merajut Paseduluran untuk Masa Depan Wayang Beber

Malam ini suasana hangat terasa di Sanggar Naladerma. Dua dosen dari Institut Seni Indonesia Surakarta, yaitu Tatik Harpawati dari Program Studi Seni Pedalangan dan Ranang Agung Sugihartono dari Program Studi Film dan Televisi, menyelenggarakan kegiatan buka bersama bersama para anggota tim periset dan keluarga di sanggar tersebut.

Nuansa kebersamaan di Sanggar Naladerma saat buka bersama (Foto: Ranang, 2026)

 

Buka bersama ini bukan sekadar pertemuan biasa. Selama ini keduanya aktif melakukan kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat yang berfokus pada upaya menggeliatkan aktivitas seni di Sanggar Naladerma; sekaligus memperkuat posisinya sebagai ruang penting bagi keberlangsungan tradisi Wayang Beber.

Salah satu sosok yang dihormati dalam kegiatan tersebut adalah maestro pelukis Wayang Beber, Joko Sri Yono. Ia dikenal sebagai pewaris penting gaya lukisan Wayang Beber Pacitan yang diturunkan dari gurunya, Atmo Supomo, pelukis Wayang Beber Keraton Surakarta. Melalui dedikasinya, gaya visual Wayang Beber yang berakar pada tradisi keraton terus dijaga dan diwariskan kepada generasi berikutnya.

Hadir pula pengelola Sanggar Naladerma, Dony Susanto, serta dosen kriya ahli Wayang Beber Sutriyanto bersama keluarga. Kegiatan ini juga dihadiri oleh para mahasiswa dan mahasiswi dari Institut Seni Indonesia Surakarta yang selama ini aktif berkegiatan, melakukan riset, hingga mengerjakan karya Tugas Akhir S-1 di Naladerma.

Suasana malam itu terasa akrab dan penuh kehangatan. Pertemuan sederhana ini menjadi ruang untuk mempererat ikatan antara sivitas akademika—khususnya dari Program Studi Pedalangan, Film dan Televisi, serta Kriya—dengan Sanggar Naladerma sebagai salah satu pilar keberlangsungan tradisi Wayang Beber di lingkungan budaya Keraton Surakarta.

Lebih dari sekadar buka bersama, pertemuan ini menjadi simbol kuatnya paseduluran antara perguruan tinggi seni dan komunitas budaya. Kerja sama dengan mitra seperti Sanggar Naladerma menunjukkan bahwa pelestarian tradisi tidak dapat berjalan sendiri, tetapi memerlukan kolaborasi yang dilandasi rasa hormat, persaudaraan, dan kesamaan cita-cita dalam merawat warisan budaya.

Malam bulan suci Ramadan yang penuh berkah ini, kebersamaan di Naladerma menjadi pengingat bahwa niat baik dalam menjaga tradisi dapat menjadi jembatan yang menyatukan generasi, pengetahuan, dan semangat kebudayaan untuk masa depan Wayang Beber. Kabar baik di bulan Ramadhan ini ialah dari Baluwarti Experience, penggerak pariwisata setempat telah membantu dapatkan jejaring pentas wayang beber Sanggar Naladerma bulan depan.